NEA: Perusahaan Masih Mencari ROI dari Investasi AI

Judul asli: NEA’s Tiffany Luck says enterprises are still figuring out their AI ROI

Mengapa Ini Penting

Menunjukkan tantangan nyata adopsi AI di enterprise saat hype berkurang, penting bagi investor dan startup memahami kebutuhan pasar.

Mitra NEA Tiffany Luck mengatakan perusahaan masih mengukur return on investment (ROI) dari pengeluaran AI mereka. Tren 'tokenmaxxing' di Silicon Valley tahun ini mendorong penggunaan AI ekstensif, namun beberapa perusahaan seperti Uber kehabisan anggaran AI dalam hitungan bulan.

Dalam podcast Equity milik TechCrunch, Tiffany Luck dari New Enterprise Associates (NEA) membahas ketegangan antara hype AI dan return on investment (ROI) nyata yang dialami perusahaan. Luck, yang sebelumnya membantu perusahaan memahami masa depan e-commerce, kini fokus pada potensi AI terutama dalam menciptakan 'magic moments' untuk konsumen.

Trend 'tokenmaxxing' di awal tahun 2026 mendorong CEO dan karyawan untuk memaksimalkan penggunaan AI sejauh mungkin. Namun realitas finansial menjadi kendala: Uber dilaporkan menghabiskan anggaran AI tahunannya hanya dalam beberapa bulan, beberapa perusahaan mengurangi lisensi Claude untuk bagian tertentu organisasi, dan Meta membatalkan papan peringkat internal AI-nya.

Luck juga membahas masa depan personal agents, pandangannya tentang IPO AI tahun ini, dan bagaimana startup membantu enterprise melacak pengembalian investasi AI. Podcast ini menyoroti bagaimana perusahaan masih dalam fase pembelajaran mengenai cara mengoptimalkan keputusan pengeluaran AI mereka.

Sumber

techcrunch.com — Baca artikel asli →