Hanya 16% Warga AS Yakin AI Berdampak Positif

Judul asli: Only 16 percent of Americans think AI will have a positive impact on society, a new study shows

Mengapa Ini Penting

Temuan menunjukkan gap signifikan antara adopsi AI dan kepercayaan publik, krusial bagi kebijakan regulasi dan strategi komunikasi industri.

Survei Pew Research menunjukkan hanya 16% orang Amerika percaya AI akan berdampak positif dalam 20 tahun ke depan, sementara 40% mengatakan berdampak negatif. Mayoritas juga skeptis terhadap regulasi pemerintah dan keamanan industri.

Survei terbaru dari Pew Research mengungkapkan pandangan pesimis mayoritas warga Amerika terhadap dampak jangka panjang AI. Hanya 16% dari responden percaya AI akan memberikan dampak positif bagi masyarakat dalam dua dekade ke depan, sementara sekitar 40% mengatakan dampaknya akan negatif. Tingkat keraguan semakin tinggi pada generasi muda: hanya 14% dari mereka yang berusia di bawah 30 tahun meyakini dampak positif AI.

Kepercayaan publik terhadap pengawasan juga rendah. Sebanyak 67% warga AS tidak yakin pemerintah akan melakukan regulasi bermakna terhadap AI, dan 59% tidak percaya perusahaan akan mengembangkannya dengan aman. Hampir dua pertiga penduduk juga berpikir perkembangan AI terjadi terlalu cepat.

Meskipun skeptis, penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari terus meningkat. Sekitar 25% warga Amerika menggunakan chatbot AI setiap hari, terutama untuk riset dan pekerjaan. Penggunaan ChatGPT mencapai 44% dari populasi dewasa AS, meningkat dari angka yang jauh lebih rendah pada 2023. Chatbot lain seperti Gemini (24%), Copilot (17%), dan Meta AI (14%) tertinggal jauh di belakang.

Terdapat perbedaan gender dalam penggunaan AI. Pria lebih sering menggunakan chatbot AI (27% versus 20% untuk wanita) dan lebih antusias dengan teknologi ini. Enam dari sepuluh responden melaporkan secara rutin membaca ringkasan internet yang dibuat AI. Sekitar 50% warga AS masih tidak menggunakan AI dalam kehidupan sehari-hari, terutama kelompok usia 65 tahun ke atas (75%).

Sumber

techcrunch.com — Baca artikel asli →