Mosqitter Ubah Perangkap Nyamuk Jadi Jaringan AI
Judul asli: Mosqitter is turning its mosquito traps into an AI-powered surveillance network
Mengapa Ini Penting
Jaringan pemantauan nyamuk berskala global bisa mengubah cara otoritas kesehatan mendeteksi wabah lebih awal.
Mosqitter, startup 30 orang asal Pennsylvania, mengembangkan jaringan pemantauan berbasis AI dari 5.000 perangkap nyamuk di lima benua untuk deteksi dini risiko penyakit.
Kasus dengue global melonjak dari 6,5 juta pada 2023 menjadi rekor 14,6 juta pada 2024, menurut WHO. Di tengah krisis itu, Mosqitter mengambil pendekatan berbeda: bukan sekadar membunuh nyamuk, melainkan membangun jaringan intelijen berbasis AI.
Perangkap buatan Mosqitter bekerja tanpa bahan kimia. Alat ini meniru panas tubuh manusia, aroma kulit, hingga embusan napas — pada model tertinggi, Grand, bahkan melepas CO₂ sintetis. Targetnya: nyamuk betina yang sedang mencari darah sebelum bertelur, siklus yang terjadi tiap tiga minggu dengan 100–200 telur sekali bertelur.
"Jika kami bisa menangkap nyamuk betina tepat sebelum ia bertelur, populasi bisa ditekan," kata Anastasiia Romanova, co-founder dan CEO Mosqitter, kepada TechCrunch.
Kini Mosqitter menambahkan lapisan AI: sistem computer vision menganalisis ciri biologis nyamuk yang tertangkap, dicocokkan dengan dataset eksternal, lalu divalidasi entomolog. Hasilnya berupa confidence score. "Bayangkan tiga hakim menganalisis satu kasus dan menghasilkan vverdict," ujar Romanova. Data lingkungan seperti cuaca, angin, dan kelembapan juga dimasukkan ke sistem. Mosqitter tampil di Startup Battlefield TechCrunch Disrupt 2026 di San Francisco.