Anthropic Akui Pasokan Gas Sebagai Risiko IPO
Judul asli: Anthropic Flags Gas Supply as One of Its Biggest Near-Term Risks
Mengapa Ini Penting
Ketergantungan AI pada gas alam menjadi variabel biaya baru yang sulit dikontrol industri.
Dalam dokumen IPO-nya, Anthropic menyebut pasokan gas alam sebagai risiko utama jangka pendek, seiring lonjakan pembangunan data center swasta yang bisa mendongkrak harga bahan bakar secara regional.
Anthropic secara eksplisit memperingatkan investor bahwa persaingan berebut gas alam bisa mengganggu operasional data center-nya dan menekan kemampuannya mengamankan pasokan bahan bakar dengan harga terjangkau. Peringatan ini muncul dalam dokumen IPO yang diajukan Senin lalu.
Angkanya mengejutkan. Cleanview mencatat proyek gas behind-the-meter yang sedang dikembangkan per Oktober 2026 sudah mencapai 110 gigawatt — naik drastis dari hanya 20 gigawatt pada Juli 2025. BloombergNEF memperkirakan data center yang terhubung ke jaringan listrik saja bisa menambah permintaan gas hingga 15 miliar kaki kubik per hari pada 2035, setara kenaikan 15 persen dari permintaan nasional saat ini.
Selama ini Anthropic mengandalkan layanan komputasi dari Amazon, Google, Microsoft, dan SpaceX — termasuk menyewa kapasitas server dari Colossus milik SpaceX di Memphis, Tennessee, yang tengah menghadapi gugatan hukum karena menggunakan turbin gas tanpa izin. Kini Anthropic bergerak lebih jauh dengan menyewa dan mengembangkan data center sendiri, termasuk kemitraan senilai $50 miliar dengan Fluidstack serta lokasi di Texas dan New York.
Langkah mandiri itu membawa risiko baru. Anthropic terlibat dalam proyek data center berskala besar di Louisiana, Texas, dan West Virginia — dan yang terakhir berpotensi menjadi salah satu pembangkit gas terbesar di AS. Sebaran geografis ini membuat perusahaan rentan terhadap gejolak harga gas regional, khususnya di kawasan Tenggara yang harus bersaing langsung dengan ekspor LNG.