Uji Loyalitas Trump: Eksekutif AI Diam Soal Rebranding

Judul asli: Trump’s Crazy AI Rebrand Was a Loyalty Test for Tech Execs—and It Worked

Mengapa Ini Penting

Diam para pemimpin teknologi menunjukkan dominasi politik atas industri bernilai triliunan dolar.

Trump menandatangani perintah eksekutif mengganti istilah 'artificial intelligence' menjadi 'Super Intelligence'. Para pemimpin teknologi seperti Bezos, Zuckerberg, dan Huang tak satu pun menyuarakan keberatan.

Pada 23 September, Trump pertama kali menyinggung keinginannya menghapus istilah 'artificial intelligence' dalam pidato di PBB. Pekan ini, ia resmi menandatangani perintah eksekutif yang melarang penggunaan istilah tersebut di pemerintahan federal, menggantinya dengan 'Super Intelligence'.

Keputusan itu diumumkan dalam makan siang di Gedung Putih yang dihadiri sejumlah nama besar: Jeff Bezos, Jensen Huang, Dario Amodei, Mark Zuckerberg, Sundar Pichai, Greg Brockman, Alex Karp, dan Elon Musk. Tidak satu pun dari mereka dilaporkan menyampaikan keberatan.

Istilah 'artificial intelligence' sendiri berusia 70 tahun — dicetuskan ilmuwan John McCarthy pada pertemuan di Dartmouth College. Google Scholar mencatat sekitar 7.420.000 hasil pencarian untuk istilah tersebut. Jacob Weisberg, penulis buku 'Profiles in Cowardice', menyebut ini sebagai uji loyalitas klasik ala Trump. 'Jika semua orang itu kompak menolak perubahan nama, apa yang bisa ia lakukan?' ujar Weisberg.

Sumber

wired.com — Baca artikel asli →